Harianutama.com, SANGATTA – Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman mengajak masyarakat menjadikan literasi sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari, bukan sekadar aktivitas yang dilakukan saat ada kegiatan atau program tertentu.
Pesan tersebut disampaikan Bupati Ardiansyah saat menutup Out of the Book Gebyar Literasi Kutim 2026 di Aula Ki Hajar Dewantara YPPSB, Swarga Bara, Sangatta, Minggu (04/10/2026).
Menurut Bupati Ardiansyah, membangun budaya literasi membutuhkan keterlibatan bersama. Pemerintah, sekolah, keluarga, komunitas, hingga masyarakat memiliki peran untuk menciptakan lingkungan yang mendorong anak-anak maupun orang dewasa terus membaca, belajar, dan mengembangkan pengetahuan.
Ia menilai literasi memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca buku. Kebiasaan menulis, bercerita, berdiskusi, menyampaikan pendapat, serta memahami berbagai persoalan juga merupakan bagian dari kemampuan berliterasi.
Bupati Ardiansyah mengatakan masyarakat saat ini menghadapi arus informasi yang jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Kondisi tersebut membuat kemampuan menyaring dan memahami informasi menjadi semakin penting, terutama ketika masyarakat menggunakan media digital dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, ia mengingatkan agar kemajuan teknologi tidak membuat masyarakat kehilangan kemampuan untuk berpikir secara mandiri. Menurutnya, teknologi termasuk kecerdasan buatan (AI) seharusnya dimanfaatkan untuk membantu manusia, bukan menggantikan gagasan dan kreativitas yang dimiliki seseorang.
“Boleh kita menggunakan alat itu dalam rangka memperkaya, tetapi ide kreatif yang khas itu harus dari kita,” tegas Bupati Ardiansyah.
Selain kemampuan berpikir, Bupati juga menyoroti pentingnya menjaga kekayaan bahasa dan budaya sebagai bagian dari penguatan literasi. Menurutnya, Indonesia memiliki keragaman bahasa dan budaya yang dapat terus dikembangkan menjadi sumber pengetahuan sekaligus memperkaya karya masyarakat.
Ia berharap kebiasaan membaca dan berkarya dapat ditanamkan sejak anak-anak. Menurutnya, pembudayaan minat baca sejak usia dini akan membantu membentuk generasi yang memiliki wawasan sekaligus mampu menghadapi perubahan zaman.
Bupati Ardiansyah juga mengapresiasi pelaksanaan Gebyar Literasi Kutim 2026 yang menghadirkan berbagai kegiatan selama 10 hari. Ia menilai peningkatan jumlah agenda dan keterlibatan masyarakat menunjukkan bahwa kegiatan literasi dapat dikemas secara menarik dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Saya berharap semangat yang muncul selama Gebyar Literasi tidak berhenti setelah kegiatan berakhir, tetapi terus menjadi kebiasaan masyarakat Kutai Timur dalam membaca, menulis, berpikir, dan berkarya,” ujarnya.
Ketua Panitia Gebyar Literasi Kutim 2026 Deden Lukman melaporkan, selama pelaksanaan pameran tercatat 3.692 kunjungan dengan 2.840 transaksi pembelian buku. Penjualan buku bahkan mencapai 175 persen dari target penerbit.
Selain pameran, lebih dari 2.500 peserta dan pengunjung terlibat dalam 15 rangkaian kegiatan. Agenda tersebut meliputi mendongeng bersama Bunda Literasi, talk show AI dan keuangan, workshop penulisan, serta berbagai perlombaan seni dan literasi.
Kemudian Direktur YPPSB Endah Wulandari turut menilai kegiatan pameran buku memberikan dampak positif bagi keluarga. Orang tua yang mendampingi anak memilih dan membaca buku dinilai memiliki kesempatan lebih besar membangun komunikasi serta kedekatan dengan anak.
Gebyar Literasi Kutim 2026 juga ditutup dengan rangkaian penghargaan bagi para peserta lomba, di antaranya lomba perpustakaan, mewarnai, bertutur, dan penulisan cerita rakyat. (ADV) (9)












