Harianutama.com Sangatta – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta jumlah titik panas atau hotspot di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai menunjukkan penurunan. Namun, kondisi kualitas udara masih menjadi perhatian akibat adanya asap yang dipengaruhi pergerakan angin.
Kepala Dinas BPBD Kutim, Sulastin, mengatakan berdasarkan hasil koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi angin turut membawa dampak terhadap wilayah Kalimantan Timur.
“Kalau kejadian sudah berkurang. Hasil koordinasi kita dengan BMKG, ternyata itu embusan angin dari Sumatera, Aceh yang membawa ke Kalimantan. Jadi semua Kalimantan, termasuk Kalimantan Timur, terdampak angin itu, “ujar Sulastin saat ditemui awak media di sela kegiatan di Gedung GSG Bukit Pelangi, Kamis (8/10/2026).
Menurutnya, penurunan hotspot tidak serta-merta menunjukkan kondisi udara telah membaik. Asap yang menutupi sinar matahari justru membuat panas matahari berkurang sehingga titik panas ikut menurun.
Sulastin menyebut, berdasarkan pemantauan pada hari tersebut terdapat sekitar 53 titik hotspot. Dari jumlah itu, sebagian besar berada pada kategori menengah, sementara tidak terdapat titik dengan tingkat risiko tinggi.
“Hari ini titik-titik itu ada 53. Tiga rendah, 52 menengah, tingginya kosong,” jelasnya.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut memiliki dampak positif sekaligus negatif. Dari sisi positif, berkurangnya intensitas panas membuat kejadian kebakaran turut menurun. Namun, di sisi lain, asap menyebabkan kualitas udara menjadi kurang baik dan berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.
“Dampak positifnya hotspot berkurang. Tapi udaranya yang tidak bagus. Kalau matahari tembus lagi, hotspot akan panas lagi dan titik panasnya bisa meninggi lagi,” katanya.
Untuk mengantisipasi dampak terhadap kelompok rentan, BPBD Kutim bersama pihak terkait juga membahas penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi anak-anak yang rentan terhadap kondisi udara kurang sehat, khususnya anak berusia di bawah 12 tahun.
Sementara itu, Sulastin mengatakan BPBD tidak dapat mengendalikan pergerakan angin karena merupakan fenomena alam yang diprediksi oleh BMKG. Langkah yang dapat dilakukan masyarakat adalah meningkatkan perlindungan diri dan mengurangi paparan terhadap udara yang kurang sehat.
“Mitigasinya menggunakan masker, mengurangi aktivitas keluar, dan banyak minum air putih,” pungkasnya.(Adv/Hu2)












