Harianutama.com Sangatta – Masyarakat Kabupaten Kutai Timur (Kutim) diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kualitas udara yang dipengaruhi kondisi cuaca dan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Selain membatasi aktivitas di luar ruangan ketika udara tidak sehat, warga juga diimbau menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi air putih yang cukup dan memperbanyak sayur-sayuran.
Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr. Yuana Sri Kurniawati, mengatakan kondisi kualitas udara saat ini dapat berubah dalam waktu singkat. Udara yang sempat membaik setelah hujan bisa kembali memburuk ketika asap kebakaran muncul dan menyebar ke wilayah permukiman.
Karena itu, masyarakat diminta tidak hanya mengandalkan kondisi cuaca yang terlihat, tetapi juga memperhatikan informasi kualitas udara dan mengurangi paparan polusi apabila kondisinya tidak sehat.
“Dalam kondisi seperti ini, saya mengimbau masyarakat untuk banyak mengonsumsi air putih, memperbanyak sayur-sayuran supaya daya tahan tubuh kuat, dan yang jelas menghindari udara di luar karena kondisinya kurang sehat,” ujar Yuana.
Ia menjelaskan, asap kebakaran hutan dan lahan dapat membawa partikel polutan yang berisiko mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan. Risiko tersebut perlu diwaspadai ketika musim kering berlangsung lama dan kebakaran terjadi di sejumlah wilayah.
Menurut Yuana, kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian lebih meliputi bayi, balita, anak-anak di bawah usia 12 tahun, ibu hamil, lansia, serta orang yang memiliki gangguan saluran pernapasan dan penyakit kardiovaskular.
Kelompok tersebut disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Apabila kondisi udara mencapai tingkat berbahaya atau darurat, pembatasan aktivitas di luar rumah perlu diterapkan lebih luas untuk melindungi kesehatan masyarakat.
Dinkes Kutim sendiri terus memantau kondisi kualitas udara melalui 21 puskesmas. Pemantauan dilakukan untuk mengikuti perubahan kondisi di lapangan dan mendukung langkah perlindungan kesehatan sesuai tingkat risiko yang dihadapi masyarakat.
Yuana menuturkan, kualitas udara tidak selalu berada dalam kondisi yang sama setiap hari. Setelah hujan, kondisi udara dapat membaik, tetapi beberapa hari kemudian kembali memburuk akibat munculnya asap. Oleh sebab itu, kewaspadaan tidak boleh dihentikan hanya karena kondisi udara sempat terasa lebih nyaman.
Selain menjaga pola konsumsi, masyarakat juga diingatkan agar membatasi kegiatan di luar ruangan ketika udara tercemar. Anak-anak yang menjalani Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), misalnya, sebaiknya tetap beraktivitas di dalam rumah dan tidak menggunakan waktu belajar dari rumah untuk bermain di luar saat kondisi udara tidak sehat.
Ia menegaskan bahwa perlindungan kesehatan harus menjadi perhatian bersama, baik bagi keluarga maupun lingkungan sekolah. Orang tua perlu memastikan anak-anak memahami alasan penerapan PJJ dan tetap mengikuti anjuran untuk mengurangi paparan asap.
Di sisi lain, tren kenaikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dipantau sejak Mei hingga meningkat pada Agustus dan September juga menjadi perhatian Dinkes Kutim. Kondisi tersebut memperkuat pentingnya upaya pencegahan, terutama ketika kualitas udara mengalami penurunan.
Yuana mengingatkan masyarakat untuk tidak menyepelekan gangguan kesehatan yang muncul selama kondisi udara memburuk. Warga yang mengalami keluhan pernapasan sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, terutama apabila keluhan tidak membaik atau semakin berat.
Ia berharap masyarakat dapat lebih disiplin menerapkan langkah pencegahan, mulai dari memperhatikan informasi kualitas udara, mengurangi aktivitas luar ruangan saat diperlukan, hingga menjaga pola makan dan kecukupan cairan tubuh.
“Yang penting kita tetap menjaga kesehatan dan menghindari paparan udara yang kurang sehat,” pungkasnya.
Dinkes Kutim mengajak seluruh masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan selama kondisi cuaca dan kualitas udara belum stabil. Kesadaran menjaga kesehatan dari lingkungan keluarga diharapkan dapat membantu mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla.(Adv/Hu2)












