Harianutama.com Sangatta – Penurunan jumlah titik panas di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) belum sepenuhnya menjamin kondisi udara aman bagi masyarakat. Kualitas udara yang masih kurang baik akibat asap menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama untuk melindungi kesehatan anak-anak yang rentan terhadap paparan polusi.
Kepala Dinas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim, Sulastin, mengatakan pemerintah telah membahas langkah perlindungan bagi anak-anak menyusul kondisi udara yang belum memenuhi persyaratan kesehatan.
Salah satu langkah yang diputuskan dalam rapat tersebut adalah pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi anak-anak dalam kelompok usia rentan, khususnya yang berusia di bawah 12 tahun.
“Kemarin rapat dipastikan dilakukan PJJ buat anak yang rentan, di bawah 12 tahun,” kata Sulastin saat diwawancarai Kamis (08/10/2026).
Ia menjelaskan, kondisi udara di wilayah Kalimantan, termasuk Kalimantan Timur, dipengaruhi oleh sejumlah faktor, salah satunya embusan angin yang berdasarkan koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membawa asap dari Sumatera hingga Aceh.
Dampak asap tersebut membuat kualitas udara perlu mendapat perhatian meskipun kejadian kebakaran dan jumlah titik panas di Kutim mulai berkurang.
Menurut Sulastin, kondisi ini menunjukkan bahwa penurunan hotspot tidak selalu berjalan seiring dengan perbaikan kualitas udara. Asap yang berada di atmosfer masih dapat memengaruhi kondisi udara yang dihirup masyarakat.
“Dampak positifnya, hotspot berkurang dan kejadian kebakaran juga menurun. Namun, dampak negatifnya, udara menjadi kurang baik dan kurang sehat,” ujarnya.
Ia menambahkan, tertutupnya sinar matahari oleh asap dapat mengurangi intensitas panas yang mencapai permukaan sehingga titik panas cenderung menurun. Akan tetapi, kondisi tersebut tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator untuk menyimpulkan bahwa udara sudah aman.
Karena itu, perlindungan terhadap anak-anak menjadi salah satu hal yang perlu diprioritaskan. Anak-anak termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian ketika kualitas udara memburuk, terutama jika aktivitas di luar ruangan dapat meningkatkan paparan asap.
Pelaksanaan PJJ diharapkan dapat mengurangi aktivitas anak di luar rumah selama kondisi udara belum membaik. Meski demikian, orang tua juga perlu memperhatikan kondisi udara di lingkungan tempat tinggal dan membatasi paparan asap di dalam maupun di luar rumah.
Sulastin mengimbau masyarakat tetap mengikuti perkembangan informasi dari pemerintah dan instansi terkait. Warga juga diminta menggunakan masker ketika diperlukan, mengurangi aktivitas di luar ruangan, serta menjaga kecukupan konsumsi air putih.
Langkah perlindungan tersebut diharapkan dapat membantu menekan risiko gangguan kesehatan selama kualitas udara masih menjadi perhatian. Pemerintah daerah pun perlu terus memantau perkembangan kondisi udara sebelum menentukan langkah lanjutan bagi kegiatan masyarakat dan pendidikan.(Adv/Hu2)












