Bupati Ardiansyah Dorong Pelestarian Warisan Leluhur Lewat Erau Pelas Benua Kutim 2026

Harianutama.com, SANGATTA – Pelestarian adat dan budaya bukan sekadar menjaga tradisi masa lalu, melainkan upaya meneruskan identitas daerah kepada generasi mendatang. Pesan tersebut menjadi penekanan Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman saat menutup rangkaian Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026 di halaman Rumah Pore Adat Kutai, Jalan Ring Road, Sangatta.

Bupati Ardiansyah mengatakan, Kutai memiliki sejarah panjang dan kekayaan budaya yang menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa Indonesia. Jejak sejarah tersebut, mulai dari Kerajaan Kutai pada masa Raja Kudungga yang dikenal melalui Prasasti Yupa hingga pengakuan terhadap keistimewaan Kutai melalui Undang-Undang Darurat Tahun 1953, perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat.

“Pelan tapi pasti, kita akan terus mengenalkan kembali nilai-nilai leluhur itu kepada kita semua,” ujarnya.

Menurut Bupati Ardiansyah, upaya pelestarian budaya perlu dilakukan secara berkelanjutan agar generasi muda memahami akar sejarah dan nilai-nilai yang membentuk identitas masyarakat Kutai. Ia menilai, kekayaan adat yang dimiliki daerah tersebut merupakan warisan berharga yang harus dijaga bersama.

Ia juga menyoroti pentingnya pendataan dan pengakuan terhadap warisan budaya tak benda. Saat ini, Kutim baru memiliki empat warisan budaya tak benda yang tercatat. Karena itu, penguatan kelembagaan adat dan pelaksanaan aturan yang menjadi pedoman pemangku adat dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan tradisi.

Ia juga menjelaskan, pemangku adat memiliki pedoman dalam menjalankan pelestarian budaya melalui Undang-Undang Panji Sraten dan Undang-Undang Braja Neti. Kedua aturan tersebut menjadi landasan agar pelaksanaan adat, tata cara, dan berbagai kegiatan kebudayaan berjalan sesuai ketentuan.

“Jadi, tidak hanya sekadar sebagai pemangku adat, tetapi ada payung hukum sehingga pelaksanaan adat dan kegiatan budaya menjadi lebih terukur,” jelasnya.

Selain tradisi adat, Bupati Ardiansyah mengingatkan masyarakat agar tidak melupakan warisan alam yang memiliki nilai sejarah, termasuk kawasan yang kini dikenal sebagai Taman Nasional Kutai. Menurutnya, pelestarian budaya dan alam merupakan bagian yang saling berkaitan dalam menjaga warisan daerah untuk masa depan.

Menutup sambutannya, Bupati Ardiansyah menyampaikan apresiasi kepada panitia, Majelis Adat Istiadat Kutai, serta Sultan Kutai Kartanegara yang telah mendukung rangkaian kegiatan selama empat hari. Ia berharap, Erau Adat Pelas Benua tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga memperkuat penghormatan terhadap sesama manusia, kepedulian terhadap alam, dan ketaatan kepada Tuhan.

“Tidak mungkin manusia hidup tanpa budaya,” tegasnya. (ADV) (9)