Akses Jalan Jadi Kendala, BPBD Kutim Ungkap Tantangan Penanganan Karhutla

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutim, Muhammad Naim Saat diwawancarai oleh awak media diruang kerjanya.

Harianutama.com Sangatta – Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Salah satu kendala yang kerap dihadapi petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim adalah kondisi akses menuju sejumlah lokasi kejadian yang belum sepenuhnya mendukung mobilisasi kendaraan pemadam.

Kepala Dinas Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD), Sulastin Melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutim, Muhammad Naim, mengatakan kondisi geografis dan akses jalan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam proses penanganan karhutla. Tidak semua titik kebakaran dapat dijangkau dengan mudah, terutama lokasi yang berada cukup jauh dari jalan utama.

Menurutnya, persoalan tersebut semakin terasa ketika titik api berada jauh dari sumber air. Petugas harus mempertimbangkan jarak antara lokasi kejadian dengan sumber air sekaligus kondisi jalan yang harus dilalui kendaraan menuju titik kebakaran.

“Kalau dibilang kendala, salah satunya jarak lokasi kejadian dengan sumber air. Kemudian kondisi jalan yang belum semua disemenisasi. Ada juga yang baru sebatas jalan setapak sehingga kendaraan kita tidak bisa melalui,” ujar Muhammad Naim saat ditemui di ruang kerjanya (07/10/2026).

Kondisi jalan yang masih berupa jalan tanah maupun jalan setapak membuat kendaraan dengan ukuran besar dan kapasitas angkut air tinggi tidak selalu dapat masuk hingga mendekati lokasi kebakaran.

Padahal, dalam penanganan karhutla, keberadaan kendaraan dengan kapasitas air besar sangat dibutuhkan untuk mendukung proses pemadaman, terutama ketika sumber air alami maupun fasilitas pengisian air berada cukup jauh dari titik kejadian.

Naim menyebut kendaraan pendukung, termasuk kendaraan water supply milik BPBD maupun kendaraan dari pihak lain, memiliki kapasitas air yang cukup besar. Namun, kemampuan tersebut tidak akan maksimal apabila akses menuju lokasi tidak memungkinkan kendaraan masuk.

Dalam kondisi tertentu, kendaraan dari perusahaan yang memiliki kapasitas air sekitar 15.000 hingga 20.000 liter juga menghadapi kendala serupa ketika harus menuju titik kebakaran yang berada di kawasan dengan akses terbatas.

“Kalau kendaraan besar tidak bisa masuk, tentu menjadi kendala tersendiri. Apalagi kalau lokasi kejadian cukup jauh dari sumber air,” jelasnya.

Karena itu, penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada ketersediaan armada dan personel, tetapi juga sangat dipengaruhi kondisi medan serta aksesibilitas menuju lokasi.

Untuk mengantisipasi berbagai kondisi tersebut, BPBD Kutim terus memperkuat kesiapsiagaan melalui penempatan personel dan peralatan di sejumlah wilayah strategis. Saat ini, BPBD menyiagakan dukungan penanganan di dua posko, yakni wilayah Sangatta Utara dan Sangatta Selatan.

Penempatan personel dan perlengkapan di dua wilayah tersebut diharapkan dapat mempercepat respons ketika terjadi kebakaran. Dengan posisi yang lebih dekat dengan wilayah yang membutuhkan penanganan, petugas dapat segera bergerak tanpa harus menunggu seluruh peralatan dikumpulkan dari satu lokasi.

Selain personel BPBD, penanganan karhutla juga didukung berbagai unsur lainnya, mulai dari TNI, Polri, relawan, pemerintah kecamatan, Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga pihak perusahaan.

Kolaborasi tersebut dinilai penting karena penanganan kebakaran di lapangan membutuhkan dukungan banyak pihak, khususnya ketika kebakaran terjadi di kawasan yang sulit dijangkau.

BPBD juga terus mendorong kesiapsiagaan masyarakat di wilayah yang berpotensi mengalami karhutla. Informasi awal dari masyarakat menjadi salah satu hal penting agar petugas dapat segera melakukan pengecekan apabila terdapat indikasi munculnya titik api.

Menurut Naim, semakin cepat informasi diterima dan semakin cepat petugas tiba di lokasi, peluang untuk mengendalikan api sebelum meluas akan semakin besar.

Dengan kondisi geografis Kutim yang cukup luas, kesiapan personel, kendaraan, sumber air dan dukungan lintas sektor menjadi bagian penting dalam menghadapi potensi karhutla. BPBD pun terus mengoptimalkan sumber daya yang tersedia agar setiap kejadian dapat ditangani secepat mungkin.(Adv/Hu2)