Armada Rusak dan Personel Terbatas, Penanganan Karhutla Sangatta Selatan Perlu Dukungan

Camat Sangatta Selatan Dewi Dohi

Harianutama.com Sangatta – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur, masih menghadapi kendala sarana dan prasarana. Keterbatasan armada pemadam, peralatan, logistik hingga jumlah personel menjadi tantangan dalam upaya mengendalikan titik api yang terus bermunculan.

Camat Sangatta Selatan, Dewi Dohi, mengatakan bahwa kebutuhan utama dalam penanganan karhutla saat ini meliputi logistik, sarana dan prasarana, serta peralatan pendukung pemadaman.

Hal tersebut disampaikannya saat diwawancarai usai kegiatan di Gedung BPU, Kamis (15/10/2026).

Menurut Dewi, ketersediaan armada yang dapat dioperasikan secara optimal masih terbatas. Dari unit yang dimiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), hanya dua unit yang disebut dapat dimaksimalkan untuk mendukung penanganan kebakaran.

“Unit dari BPBD sendiri itu sebenarnya hanya dua unit yang bisa dimaksimalkan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa kondisi armada juga perlu menjadi perhatian karena sebagian kendaraan atau peralatan pendukung sudah membutuhkan pemeliharaan. Kerusakan tersebut berdampak pada kesiapan petugas ketika harus melakukan pemadaman di lapangan.

Dewi menyebut, selama sekitar satu pekan sebelumnya, dukungan armada BPBD untuk wilayah Sangatta Selatan sempat tidak tersedia secara optimal karena adanya kerusakan dan proses perbaikan.

Situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika titik api terus muncul. Petugas harus menyesuaikan upaya pemadaman dengan fasilitas yang tersedia, sementara kondisi di lapangan membutuhkan respons yang cepat.

Selain armada, jumlah personel juga menjadi persoalan. Dewi menyampaikan bahwa pada kondisi tertentu, petugas yang hadir untuk melakukan penanganan hanya sekitar dua orang. Jumlah tersebut dinilai belum memadai jika dibandingkan dengan kebutuhan pengendalian kebakaran di beberapa lokasi sekaligus.

“Kalau misalnya tanpa unit, bisa dibayangkan apa yang bisa kita lakukan,” katanya.

Ia menilai bahwa penanganan kebakaran membutuhkan dukungan yang saling melengkapi antara personel, kendaraan pemadam, pasokan air, serta peralatan operasional. Apabila salah satu unsur tersebut tidak tersedia, kemampuan petugas dalam menjangkau dan memadamkan api tentu menjadi terbatas.

Dewi juga menyoroti kapasitas tangki air yang digunakan dalam penanganan kebakaran. Dalam wawancara, ia menyebut kapasitas sekitar 1.200 liter dan menilai bahwa dukungan pasokan air tambahan sangat diperlukan agar proses pemadaman dapat berlangsung lebih efektif. Detail mengenai unit dan konfigurasi peralatan tersebut perlu dikonfirmasi kembali sebelum dimuat sebagai spesifikasi teknis.

Meski menghadapi keterbatasan, ia mengapresiasi semangat petugas yang tetap menjalankan tugas di lapangan. Menurutnya, dedikasi tersebut perlu diimbangi dengan dukungan fasilitas yang memadai, bukan hanya mengandalkan inisiatif dan kemampuan personel.

Karena itu, Dewi berharap kebutuhan sarana dan prasarana penanganan karhutla dapat menjadi perhatian bersama. Ia menilai bahwa penguatan armada, pemeliharaan peralatan, ketersediaan logistik dan penambahan dukungan personel penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran.

Dengan dukungan yang lebih baik, pemerintah kecamatan berharap petugas dapat melakukan pemadaman secara lebih cepat, menjangkau titik api secara efektif, serta mengurangi risiko meluasnya kebakaran dan dampak asap terhadap masyarakat.(Adv/Hu2)