Cegah PTM Sejak Dini, Dinkes Kutim Perkuat Kompetensi Tenaga Skrining Usia Produktif

Harianutama.com, SAMARINDA – Penyakit tidak menular (PTM) menjadi salah satu tantangan kesehatan yang membutuhkan penguatan deteksi dini, terutama pada kelompok usia produktif. Untuk memperluas upaya pencegahan tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Timur bersama PT Lisensia Persada Nusantara menggelar Pertemuan Peningkatan Kapasitas Tenaga Pelaksana Skrining Kesehatan Usia Produktif Program PTM Puskesmas Tahun 2026, 4-7 Oktober 2026.

Kegiatan yang berlangsung selama empat hari tersebut menghadirkan narasumber dari Direktorat PTM Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI). Peserta dibekali penguatan pengetahuan dan keterampilan agar mampu melaksanakan skrining PTM secara tepat, mulai dari pemeriksaan faktor risiko, pengukuran, edukasi hingga pencatatan dan tindak lanjut hasil pemeriksaan, Selasa (06/10/2026).

Kepala Dinkes Kutim dr. Yuwana Sri Kurniawati menjelaskan bahwa hipertensi, diabetes, penyakit jantung dan stroke merupakan sejumlah PTM yang perlu mendapat perhatian serius karena dapat berkembang tanpa gejala pada tahap awal. Kondisi tersebut membuat skrining menjadi bagian penting dalam menemukan faktor risiko sebelum berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih berat.

Menurutnya, kelompok usia produktif memiliki posisi penting dalam kehidupan keluarga, dunia kerja dan pembangunan daerah. Karena itu, menjaga kesehatan kelompok tersebut tidak hanya berkaitan dengan kualitas hidup individu, tetapi juga berkaitan dengan keberlangsungan produktivitas masyarakat dan pembangunan Kutai Timur.

Yuwana menilai Puskesmas memiliki posisi strategis karena menjadi fasilitas pelayanan kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat.

“Penguatan kapasitas tenaga pelaksana diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan skrining sekaligus memperluas jangkauan deteksi dini PTM di wilayah kerja masing-masing,” ujarnya saat membuka kegiatan tersebut.

Momen foto bersama

Integrasi skrining PTM dengan program Layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) juga menjadi peluang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kondisi kesehatannya. Dinkes Kutim mendorong agar masyarakat tidak menunggu munculnya keluhan atau penyakit, tetapi mulai membangun kebiasaan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Ia juga mengingatkan bahwa skrining tidak boleh berhenti pada kegiatan pemeriksaan dan pencatatan hasil.

“Setiap pemeriksaan harus menghasilkan tindak lanjut,”kata Yuwana, seraya menekankan pentingnya edukasi bagi masyarakat yang memiliki faktor risiko maupun rujukan bagi mereka yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

Karena itu, tenaga pelaksana diharapkan mampu memberikan pelayanan secara menyeluruh, termasuk melakukan pengukuran dengan benar, menyampaikan hasil pemeriksaan menggunakan bahasa yang mudah dipahami, mencatat data secara akurat serta memastikan masyarakat memperoleh tindak lanjut sesuai kondisi yang ditemukan.

Upaya pencegahan PTM juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari Dinkes, Puskesmas, tenaga kesehatan, pemerintah kecamatan dan desa, dunia kerja hingga masyarakat. Kolaborasi tersebut diperlukan agar skrining tidak hanya berlangsung di fasilitas kesehatan, tetapi dapat menjangkau kelompok masyarakat yang memiliki risiko namun belum memanfaatkan layanan kesehatan secara rutin.

Dalam pencegahan PTM, Dinkes Kutim turut mendorong penerapan perilaku hidup sehat melalui prinsip CERDIK, yakni cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet sehat dan seimbang, istirahat cukup serta kelola stres. Pola tersebut diharapkan menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat untuk menjaga kesehatan sejak usia produktif.

Melalui kegiatan peningkatan kapasitas ini, Dinkes Kutim berharap tenaga pelaksana skrining semakin kompeten dan mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam pelayanan sehari-hari. Kepala Puskesmas juga diharapkan memastikan hasil pembekalan diterapkan di wilayah kerja masing-masing sehingga penguatan skrining PTM benar-benar berdampak pada peningkatan kesadaran, deteksi dini dan tindak lanjut kesehatan masyarakat. (ADV) (9)