Harianutama.com, KARANGAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Timur (Kutim) terus memperluas jangkauan pelayanan kesehatan dasar ke wilayah yang memiliki keterbatasan akses. Salah satunya melalui pelayanan kesehatan bergerak di Kecamatan Karangan yang mengintegrasikan layanan dokter spesialis, Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan tracing Tuberkulosis (TBC), Sabtu (03/10/2026).
Kepala Dinkes Kutim dr. Yuwana Sri Kurniawati mengatakan pelayanan kesehatan bergerak merupakan bagian dari strategi memperkuat pelayanan kesehatan dasar sekaligus memastikan masyarakat di wilayah terpencil tetap memperoleh layanan yang berkualitas. Menurutnya, kondisi geografis dan keterbatasan infrastruktur masih menjadi tantangan dalam menjangkau fasilitas kesehatan rujukan.
Yuwana menjelaskan, pelayanan kesehatan bergerak menyasar wilayah tertinggal, perbatasan, kepulauan, kawasan hutan dan komunitas adat terpencil. Pelaksanaannya dilakukan berdasarkan kebutuhan kesehatan masyarakat dan kondisi wilayah kerja Puskesmas, terutama daerah yang masuk kategori sangat terpencil dan terpencil. Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendukung visi pembangunan Kutim yang mandiri dan berdaya saing.
“pelayanan dokter keliling merupakan salah satu dari lima program prioritas kepala daerah di bidang kesehatan yang diarahkan untuk mempermudah masyarakat desa dan wilayah terpencil memperoleh layanan medis,” ujarnya.
Dalam kegiatan di Karangan, Dinkes Kutim menghadirkan dokter spesialis dari RSUD Sangkulirang, terdiri atas dokter spesialis anak, spesialis obstetri dan ginekologi (obgyn), serta spesialis penyakit dalam. Karangan menjadi salah satu dari delapan kecamatan yang mendapat pelayanan kesehatan bergerak karena membutuhkan kehadiran dokter spesialis dan memiliki jarak yang cukup jauh dari fasilitas rumah sakit.
Yuwana menyampaikan, kegiatan serupa sebelumnya telah dilaksanakan di Sandaran dan Batu Ampar, sedangkan Karangan menjadi pelaksanaan berikutnya. Program tersebut selanjutnya direncanakan menyasar Busang, Telen, Muara Ancalong dan Long Mesangat sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan di masing-masing wilayah.
Selain pelayanan dokter spesialis, kegiatan di Karangan juga dirangkaikan dengan CKG dan pemeriksaan penyakit tidak menular (PTM). Pemeriksaan dilakukan secara kolektif untuk membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya lebih dini, antara lain melalui pemeriksaan gula darah, kolesterol, asam urat serta sejumlah indikator kesehatan lainnya.
Kegiatan tersebut kemudian diintegrasikan dengan tracing TBC sebagai bagian dari penguatan penemuan kasus. Yuwana menyebut persoalan TBC masih menjadi tantangan besar di Indonesia sehingga diperlukan kerja bersama dalam menemukan kasus, memastikan pasien menjalani pengobatan dan memberikan pendampingan sampai sembuh.
“Semangatnya adalah TOSS TBC, temukan TBC dan obati sampai sembuh,” ujarnya.
Dalam penanganan TBC, Dinkes Kutim mendapat dukungan PPTI Kutim yang aktif melakukan penemuan kasus dan pendampingan pasien. PPTI Kutim telah membentuk ranting di 18 wilayah, sementara Kecamatan Karangan juga didorong untuk memperkuat peran masyarakat melalui pembentukan desa siaga TBC.
Yuwana menambahkan, Kutim saat ini memiliki 15 desa siaga TBC dari total 46 desa siaga TBC di Kalimantan Timur. Desa-desa tersebut berada di Sangatta Utara, Sangatta Selatan dan Bengalon. Ia berharap upaya serupa dapat diperluas ke Karangan sehingga masyarakat semakin aktif dalam pencegahan, penemuan dini dan penanganan TBC di tingkat desa. (ADV) (9)












