Kasus ISPA di Kutim Meningkat Sejak Mei, Dinkes Waspadai Dampak Asap Karhutla

Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr. Yuana Sri Kurniawati

Hariamutama.com Sangatta – Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mencermati tren kenaikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang terpantau sejak Mei 2026. Peningkatan kasus tersebut semakin terlihat pada Agustus hingga September, di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu dan ancaman asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr. Yuana Sri Kurniawati, mengatakan perkembangan kasus ISPA terus dipantau sebagai bagian dari upaya mengantisipasi dampak buruk kualitas udara terhadap kesehatan masyarakat.

Menurutnya, perubahan kondisi cuaca dan kualitas udara perlu menjadi perhatian bersama. Ketika udara tercemar asap dan partikel polutan, risiko gangguan saluran pernapasan dapat meningkat, terutama pada masyarakat yang memiliki kerentanan terhadap penyakit pernapasan.

“Kasus ISPA itu kita monitor bahkan sejak Mei. Tren kenaikannya cukup signifikan. Semakin memasuki Agustus dan September, kasusnya semakin tinggi,” ujar Yuana saat diwawancarai.

Ia menjelaskan, salah satu kondisi yang menjadi perhatian saat ini adalah musim kering berkepanjangan yang dikaitkan dengan fenomena El Nino. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, sehingga asap yang dihasilkan dapat memengaruhi kualitas udara di sejumlah wilayah.

Yuana mengatakan, berdasarkan informasi yang diterima dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi El Nino diperkirakan masih dapat berlangsung hingga akhir tahun, bahkan berpotensi berlanjut sampai awal tahun berikutnya. Situasi tersebut membuat kewaspadaan terhadap dampak kesehatan perlu terus ditingkatkan.

Meski demikian, perkembangan cuaca dan kualitas udara tetap perlu dipantau secara berkala karena kondisinya dapat berubah. Hujan yang turun dalam beberapa hari belum tentu menjamin kualitas udara akan terus membaik, terutama apabila kebakaran kembali terjadi di wilayah tertentu.

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Dinkes Kutim melakukan pemantauan melalui 21 puskesmas. Pemantauan ini menjadi bagian dari upaya mengikuti perkembangan kondisi kesehatan masyarakat sekaligus memperhatikan perubahan kualitas udara yang dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan.

Yuana menegaskan, anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus. Selain anak-anak, bayi, balita, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan dan penyakit kardiovaskular juga membutuhkan perlindungan lebih ketika kualitas udara menurun.

Ia mengatakan, langkah pencegahan harus dilakukan sebelum kondisi kesehatan masyarakat semakin memburuk. Karena itu, penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada saat tertentu menjadi salah satu langkah perlindungan bagi anak sekolah ketika kondisi udara dinilai tidak mendukung aktivitas luar ruangan.

Menurut Yuana, pemantauan dan respons terhadap perubahan kualitas udara perlu dilakukan secara berkelanjutan. Apabila kondisi udara memburuk kembali setelah sempat membaik, langkah perlindungan juga harus disesuaikan agar masyarakat tidak terpapar polusi secara berlebihan.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh paparan asap, terutama ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi secara berulang. Partikel polutan di udara dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu gangguan kesehatan, sehingga upaya mengurangi paparan menjadi langkah pencegahan yang penting.

Selain menghindari udara yang tercemar, masyarakat juga dianjurkan menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi air putih yang cukup serta memperbanyak konsumsi sayur-sayuran. Upaya tersebut perlu disertai kebiasaan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara sedang tidak sehat.

Dinkes Kutim mengimbau masyarakat untuk mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara dan memperhatikan kondisi kesehatan masing-masing. Warga yang mengalami keluhan pernapasan atau gejala yang semakin berat perlu segera mencari pertolongan tenaga kesehatan.

Yuana berharap kewaspadaan masyarakat dapat membantu mengurangi risiko gangguan kesehatan selama kondisi cuaca dan kualitas udara belum stabil. Dengan pemantauan berkelanjutan serta penerapan langkah pencegahan yang tepat, dampak paparan asap terhadap kesehatan masyarakat di Kutai Timur diharapkan dapat diminimalkan.(Adv/Hu2)