Harianutama.com Sangatta – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menegaskan penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) menjadi salah satu langkah perlindungan bagi anak sekolah di tengah kondisi kualitas udara yang berubah-ubah akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan kualitas udara di wilayah Kalimantan Timur, termasuk Kutim, mengalami fluktuasi sehingga perlu dipantau secara berkala. Kondisi tersebut semakin menjadi perhatian karena fenomena El Nino turut memicu meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Menurutnya, paparan asap berisiko mengganggu kesehatan, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap pencemaran udara. Anak-anak, bayi, balita, ibu hamil, lanjut usia, serta penderita gangguan pernapasan dan kardiovaskular perlu mendapatkan perlindungan lebih.
“PJJ ini kita berlakukan untuk memberikan perlindungan kepada anak-anak sekolah agar tetap sehat. Kondisi udara bisa berubah, hari ini aman, tetapi beberapa hari kemudian kembali memburuk karena asap,” ujarnya saat diwawancarai awak media Kamis, (08/10/2026).
Yuwana menjelaskan, keputusan terkait pembelajaran tatap muka maupun PJJ perlu menyesuaikan kondisi kualitas udara terkini. Karena itu, pemantauan terus dilakukan melalui 21 puskesmas di Kutim.
Penilaian kualitas udara dilakukan dengan memperhatikan konsentrasi partikel debu halus PM2,5 dan PM10. Ketika kondisi udara meningkat ke tingkat yang membahayakan, perlindungan tidak hanya ditujukan kepada kelompok rentan, tetapi seluruh masyarakat perlu membatasi aktivitas di luar ruangan.
Ia juga mengingatkan orang tua agar mendukung kebijakan PJJ dengan memastikan anak tetap berada di dalam rumah. Menurutnya, pembelajaran dari rumah tidak akan efektif melindungi kesehatan apabila anak justru bermain di luar saat kondisi udara tidak sehat.
“PJJ ini untuk kesehatan anak-anak kita. Jangan sampai mereka belajar dari rumah, tetapi tetap bermain di luar ketika kondisi udara sedang tidak baik,” tegasnya.
Dinkes Kutim mengimbau masyarakat terus mengikuti perkembangan kualitas udara dan mengurangi paparan asap, terutama ketika terjadi peningkatan pencemaran akibat karhutla.(Adv/Hu2)












