SANGATTA – Festival Pesona Budaya (FPB) Kutai Timur (Kutim) 2025 kembali menegaskan perannya bukan hanya sebagai ajang apresiasi seni budaya, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Selama tiga hari perhelatan di Alun-alun Bukit Pelangi, omzet para pelaku UMKM yang ikut berpartisipasi melampaui Rp 200 juta. Angka tersebut menjadi sinyal positif bahwa event berbasis budaya mampu memberi manfaat langsung bagi perekonomian lokal.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim, Mulyono, menilai FPB menjadi ruang yang efektif dalam menggabungkan pelestarian budaya dan pemberdayaan usaha kecil. Ia menyebut keberadaan stand kuliner dan kerajinan memberi kesempatan kepada warga untuk memperkenalkan produk mereka lebih luas kepada masyarakat.
“Alhamdulillah, Festival Pesona Budaya Kutim ini berjalan dengan baik, menurut bisa melestarikan dan memberdayakan kesenian maupun budaya di Kutim, dan juga bisa meningkatkan perekonomian dengan adanya UMKM yang terlibat dalam kegiatan ini,” ujarnya.
Ketua Panitia FPB 2025 sekaligus Kabid Kebudayaan, Padliyansyah, mengungkapkan antusiasme pengunjung berpengaruh besar terhadap capaian transaksi. Hingga malam sebelum penutupan, jumlah pengunjung terus meningkat.
“Omzet penjualan telah mencapai Rp 200 juta lebih sampai malam kemarin. Nah, tahu malam ini kayaknya cukup ramai, mudah-mudahan tambah meningkat omzet dari UMKM,” jelasnya.
Dengan tingginya dukungan masyarakat dan efek ekonomi yang terasa, Pemkab Kutim memastikan akan terus membuka ruang bagi UMKM di setiap event daerah. Festival budaya seperti FPB kini menjadi salah satu strategi nyata dalam memperkuat ekonomi kerakyatan dan pemerataan pendapatan masyarakat. (ADV)













