Kasus ISPA di Kutim Naik 37,1 Persen, Dinkes Imbau Masyarakat Waspadai Paparan Debu dan Asap

Harianutama.com, KUTAI TIMUR – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengalami peningkatan selama periode Juli hingga September 2026. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim, jumlah kasus yang tercatat meningkat dari 3.973 kasus pada Juli menjadi 5.446 kasus pada September, atau naik sebesar 37,1 persen. Kondisi ini menjadi perhatian, terutama di tengah kualitas udara yang masih berfluktuasi dan berpotensi meningkatkan risiko gangguan pernapasan.

Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan peningkatan kasus tersebut perlu diantisipasi melalui penguatan upaya pencegahan dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan. Menurutnya, kelompok dewasa menjadi kelompok dengan jumlah kasus ISPA tertinggi, yakni sebanyak 5.710 kasus atau 40,7 persen dari total 14.014 kasus yang tercatat selama Juli hingga September 2026.

Selain kelompok dewasa, balita berusia 0–4 tahun juga menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus. Tercatat sebanyak 3.874 kasus ISPA pada kelompok usia tersebut, setara dengan 27,6 persen dari keseluruhan kasus. Jumlah kasus pada balita juga menunjukkan peningkatan setiap bulan, dari 1.054 kasus pada Juli menjadi 1.299 kasus pada Agustus dan 1.521 kasus pada September.

“Kelompok dewasa merupakan kelompok dengan kasus tertinggi, kemudian disusul balita. Karena itu, upaya pencegahan harus terus diperkuat, khususnya bagi kelompok yang rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan debu dan asap,” ujar Yuwana.

Dari sisi perawatan, Dinkes Kutim mencatat sebanyak 168 kasus ISPA yang memerlukan rawat inap selama periode Juli hingga September 2026. Balita menjadi kelompok dengan jumlah rawat inap terbanyak, yakni 108 kasus atau sekitar 64,3 persen dari total pasien yang dirawat. Jumlah rawat inap pada balita mencapai puncaknya pada Agustus, dengan 50 kasus, sebelum menurun menjadi 25 kasus pada September.

Sementara itu, berdasarkan pemantauan mingguan, tren kasus ISPA meningkat hingga mencapai puncak pada minggu ke-37, kemudian menunjukkan penurunan hingga minggu ke-40. Meski demikian, penurunan pada akhir periode pengamatan tersebut tidak serta-merta menghilangkan risiko penularan maupun gangguan pernapasan, sehingga masyarakat tetap perlu menerapkan langkah-langkah pencegahan.

Yuwana menjelaskan, kondisi udara di Kutim saat ini masih berfluktuasi. Oleh sebab itu, masyarakat diimbau untuk mengurangi paparan debu dan asap, terutama saat beraktivitas di luar rumah. Penggunaan masker dianjurkan bagi masyarakat yang harus bepergian, sedangkan kelompok rentan, seperti balita, lansia, dan orang dengan kondisi kesehatan tertentu, sebaiknya membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara kurang baik.

Selain menggunakan masker, masyarakat juga diminta menjaga daya tahan tubuh dengan mencukupi kebutuhan cairan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta memperbanyak konsumsi sayur dan buah. Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk mencuci tangan menggunakan sabun secara rutin, juga menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan dan mengurangi risiko penyakit.

Dinas Kesehatan Kutim mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak dan kelompok rentan. Penguatan pencegahan, penerapan PHBS, pembatasan paparan debu dan asap, serta kesiapan layanan kesehatan diharapkan dapat membantu menekan risiko ISPA sekaligus menjaga kesehatan masyarakat di tengah kondisi udara yang belum stabil. (ADV) (9)