banner 1024x768 banner 1024x768

Kelurahan Maluhu Tenggarong Garap Film Pendek Berjudul “Maluhu Menggapai Cita”

Kutai Kartanegara, Harian Utama – Ratusan masyarakat berbondong-bondong memadati halaman Sasana Krida Bhakti Kelurahan Maluhu untuk menyaksikan pemutaran film pendek berjudul “Maluhu Menggapai Cita”. Film ini menceritakan perjuangan dan pengorbanan para sesepuh saat masa transmigrasi dari Pulau Jawa ke Pulau Kalimantan, tepatnya di kampung Maluhu, Tenggarong. Diketahui pemutaran film ini merupakan rangkaian acara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Maluhu ke-54, pada Selasa malam, 21 Mei 2024.

Disamping itu kegiatan tersebut juga dirangkai dengan festival ingkung, tumpeng, dan pembagian sertifikat tanah oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar). Ratusan masyarakat yang hadir bersama-sama menikmati tumpeng dan ingkung yang disiapkan oleh seluruh RT dan lembaga di Kelurahan Maluhu.

Melalui Lurah Maluhu, Tri Joko Kuncoro, mengungkapkan bahwa pembuatan film “Maluhu Menggapai Cita” adalah hasil kolaborasi antara Kelurahan Maluhu dan Komunitas Pelem Indie Tenggarong. Proses produksi film ini terbilang singkat, hanya sekitar dua pekan pada akhir April 2024.

“Penulisan skenario memakan waktu satu minggu, kemudian pemilihan tempat dan proses syuting hanya berlangsung selama empat hari. Inisiatif ini sebenarnya datang dari anak-anak transmigrasi di RT 12, yang kemudian menyampaikan ide mereka dengan komunitas film indie hingga terwujudlah film pendek ini,” ujar Joko.

Film “Maluhu Menggapai Cita” secara garis besar mengisahkan perjalanan nyata sepasang suami istri yang mengikuti program transmigrasi dari pemerintah pusat pada tahun 1970, kata Joko. Secara umu alur ceritanya bermula dari kehidupan mereka di Pulau Jawa, kemudian mengikuti program transmigrasi dengan janji akan diberikan tanah dan fasilitas lainnya. Namun, setibanya di Maluhu, janji tersebut tidak sesuai ekspektasi. Keadaan masih berupa hutan dengan hanya sebuah gubuk kecil sebagai tempat tinggal.
Kemudian di terangkan Joko, pasangan suami istri tersebut dihadapkan pada dua pilihan, melanjutkan hidup di Maluhu atau kembali ke Pulau Jawa. Karena tidak ada ongkos untuk kembali ke Jawa, mereka memutuskan bertahan hidup di Maluhu. Sikap gotong royong sesama warga transmigrasi juga ditampilkan dalam film ini, menunjukkan bagaimana budaya saling tolong-menolong telah mengakar sejak dulu dan diturunkan ke generasi berikutnya.

Kelurahan Maluhu Tenggarong Garap Film Pendek Berjudul “Maluhu Menggapai Cita”Kutai Kartanegara, Harian Utama – Ratusan masyarakat berbondong-bondong memadati halaman Sasana Krida Bhakti Kelurahan Maluhu untuk menyaksikan pemutaran film pendek berjudul “Maluhu Menggapai Cita”. Film ini menceritakan perjuangan dan pengorbanan para sesepuh saat masa transmigrasi dari Pulau Jawa ke Pulau Kalimantan, tepatnya di kampung Maluhu, Tenggarong. Diketahui pemutaran film ini merupakan rangkaian acara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Maluhu ke-54, pada Selasa malam, 21 Mei 2024.Disamping itu kegiatan tersebut juga dirangkai dengan festival ingkung, tumpeng, dan pembagian sertifikat tanah oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar). Ratusan masyarakat yang hadir bersama-sama menikmati tumpeng dan ingkung yang disiapkan oleh seluruh RT dan lembaga di Kelurahan Maluhu.Melalui Lurah Maluhu, Tri Joko Kuncoro, mengungkapkan bahwa pembuatan film “Maluhu Menggapai Cita” adalah hasil kolaborasi antara Kelurahan Maluhu dan Komunitas Pelem Indie Tenggarong. Proses produksi film ini terbilang singkat, hanya sekitar dua pekan pada akhir April 2024.”Penulisan skenario memakan waktu satu minggu, kemudian pemilihan tempat dan proses syuting hanya berlangsung selama empat hari. Inisiatif ini sebenarnya datang dari anak-anak transmigrasi di RT 12, yang kemudian menyampaikan ide mereka dengan komunitas film indie hingga terwujudlah film pendek ini,” ujar Joko.Film “Maluhu Menggapai Cita” secara garis besar mengisahkan perjalanan nyata sepasang suami istri yang mengikuti program transmigrasi dari pemerintah pusat pada tahun 1970, kata Joko. Secara umu alur ceritanya bermula dari kehidupan mereka di Pulau Jawa, kemudian mengikuti program transmigrasi dengan janji akan diberikan tanah dan fasilitas lainnya. Namun, setibanya di Maluhu, janji tersebut tidak sesuai ekspektasi. Keadaan masih berupa hutan dengan hanya sebuah gubuk kecil sebagai tempat tinggal.Kemudian di terangkan Joko, pasangan suami istri tersebut dihadapkan pada dua pilihan, melanjutkan hidup di Maluhu atau kembali ke Pulau Jawa. Karena tidak ada ongkos untuk kembali ke Jawa, mereka memutuskan bertahan hidup di Maluhu. Sikap gotong royong sesama warga transmigrasi juga ditampilkan dalam film ini, menunjukkan bagaimana budaya saling tolong-menolong telah mengakar sejak dulu dan diturunkan ke generasi berikutnya.“Zaman dulu, warga transmigrasi hampir semuanya bergotong royong untuk membuat akses jalan dan itu berlangsung turun-temurun hingga sekarang. Budaya gotong royong ini terjaga dengan baik,” akhiri Joko. (*adv/diskominfokukar)

“Zaman dulu, warga transmigrasi hampir semuanya bergotong royong untuk membuat akses jalan dan itu berlangsung turun-temurun hingga sekarang. Budaya gotong royong ini terjaga dengan baik,” akhiri Joko. (*adv/diskominfokukar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *